Menelusuri Jejak Kejayaan Produksi Minyak Tuban di Masa Penjajahan Belanda

Tuban - Penjajahan kolonial belanda selama 350 tahun di tanah air tak hanya mengeruk hasil alam berupa rempah-rempah. Negeri Ratu Elizabeth tersebut ternyata juga menyedot kekayaan alam yang terkandung dalam perut bumi yaitu minyak.

Jejak keserakahan penjajah dapat dilihat dari keberadaan sumur-sumur minyak tua yang tersebar di sejumlah daerah, khususnya Kabupaten Tuban. Ratusan sumur minyak peninggalan Belanda dapat di temukan di beberapa pelosok Bumi Ronggolawe tersebut.

Salah satunya yaitu lapangan minyak Kawengan di Kecamatan Senori Kabupaten Tuban. Lapangan minyak yang menjadi penopang kilang Cepu tersebut dibangun bersandingan dengan lapangan Nglondo dan lapangan Ledok pada tahu 1894.

Sumur-sumur minyak lapangan Kawengan tersebar di beberapa desa. Antara lain Desa Banyuurip dan Desa Wonosari di Kecamatan Senori Kabupaten Tuban serta Desa Mudal dan Desa Kedewan di Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro.

Sementara sentral pengelolaan lapangan Kawengan dimasa penjajahan berada di Desa Banyuurip. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan kantor pusat yang bediri di desa tersebut.

Di Desa Banyuurip, kita juga bisa melihat pemandangan sumur angguk dengan merek Tomason peninggalan Belanda. Serta banyaknya pipa-pipa bekas dan keran-keran yang dahulu digunakan untuk mengalirkan minyak mentah dari sumur menuju stasiun pengumpul.

Menurut tetua Desa Banyuurip, Sudarno (63), penggalian sumur minyak di desa setempat dilakukan Belanda. Namun tenaga menggunakan warga pribumi dengan sistem kerja paksa. Bahkan sebagian besar lokasi sumur merupakan tanah hasil rampasan dari masyarakat sekitar.

Akibatnya banyak warga pribumi yang terusir dari tanahnya sendiri. terbanyak bersembunyi di Dusun Ngebrak, Desa Wangklu Kulon, Kecamatan Senori.

\\\"Banyak yang tidak kembali sampai sekarang tinggal disana,\\\" kata Sudarno (63), yang mengaku pernah menjadi pekerja di perminyakan Kawengan selama puluhan tahun kepada detikcom, Kamis (24\/10\/2013).

\\\"Lahan yang yang dibutuhkan tidak sedikit, untuk membuat sumur dan juga membangun bangsal dan loji (tempat peristirahatan) bagi Belanda dan pekerja kasar,\\\" jelasnya.

Pada tahun 1942 sempat terjadi peralihan dari Belanda ke Jepang. Namun kekuasaan Jepang tak bertahan lama, sehingga Belanda kembali datang ke desa Banyuurip.

\\\"Setelah itu banyak bangsal dan loji yang dibakar, mungkin supaya tidak bisa dimanfaatkan lagi oleh Belanda,\\\" cerita tetua Desa Banyuurip lainnya, Rusdi (78).

Belanda datang kembali ketempat itu sekitar tahun 1948. Mereka membangun kembali bangsal dan loji untuk para pekerja yang telah dibakar Jepang. Namun kedatangan Belanda kali kedua tidak menggunakan sistem penjajahan.

Pengelolaan sumur minyak dilakukan dengan memberikan sistem upah bagi pekerja dan juga memberikan ganti rugi bagi warga pribumi pemilik lahan.

\\\"Juga ada Sembako dan bahan makanan lain, kalau malam Belanda juga kerap mengadakan pertemuan dan dansa di salah satu Loji,\\\" tambahnya.

Tak lama berselang, pada kisaran tahun 1951, Belanda tiba-tiba pergi meninggalkan lapangan Kawengan. Seluruh pasukan pergi dan lampu-lampu yang tiap malam menerangi wilayah sekitar dimatikan. Mereka meninggalkan perlengkapan penambangan minyak.

\\\"Saya juga nggak tahu, kenapa saat itu semua lampu kok dimatikan,\\\" jelasnya.

Formulir Komentar (Komentar baru terbit setelah disetujui Admin)